
reelsparimo.com, Parigi Moutong – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Desa Avulua, Kecamatan Parigi Utara, dan Desa Uwevolo, Kecamatan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, hingga kini belum berhasil dipadamkan. Peristiwa tersebut telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut dan memicu sorotan keras dari elemen masyarakat sipil.
Koordinator Presidium ALARM (Aliansi Rakyat Menggugat) Sulawesi Tengah sekaligus Ketua KNPI Parigi Moutong, Rifal Tajwid, menilai penanganan karhutla mencerminkan lemahnya kepemimpinan daerah dalam menghadapi situasi darurat. Ia mengkritik belum hadirnya Bupati maupun Wakil Bupati Parigi Moutong di lokasi kebakaran.
“Sudah tiga hari api membakar hutan dan mengancam permukiman warga, tetapi kepala daerah belum juga hadir. Ini bukan kejadian biasa, ini kondisi darurat. Ketidakhadiran pemimpin berpotensi memperlambat penanganan,” ujar Rifal, Rabu (4/2/2026).
Menurutnya, petugas lapangan dari BPBD, pemadam kebakaran, relawan, serta warga setempat telah bekerja tanpa henti dengan keterbatasan peralatan dan sumber daya, bahkan mempertaruhkan keselamatan mereka.
Namun, upaya di lapangan tersebut dinilai belum diimbangi dengan dukungan maksimal dan kehadiran langsung pimpinan daerah.
“Petugas di lapangan berjibaku siang dan malam. Yang dibutuhkan masyarakat adalah keputusan cepat dan koordinasi langsung, bukan sekadar pemantauan dari jauh,” katanya.
Rifal menegaskan, dalam situasi krisis seperti karhutla, kehadiran kepala daerah di lokasi bencana merupakan tanggung jawab moral dan politik untuk memastikan koordinasi lintas instansi berjalan optimal serta memberikan rasa aman kepada masyarakat terdampak.
Ia juga mengingatkan, lambannya penanganan berpotensi memperparah dampak lingkungan, mengancam kesehatan warga akibat paparan asap, serta mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar wilayah kebakaran.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, ALARM Sulteng bersama elemen kepemudaan dan masyarakat sipil disebut tengah melakukan konsolidasi untuk menyiapkan aksi sebagai bentuk tekanan agar pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret.
“Ini bukan sekadar protes, tetapi peringatan. Jika hari ini Avulua dan Uwevolo dibiarkan terbakar, maka desa lain hanya tinggal menunggu giliran,” tegasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Parigi Moutong, Rivai, mengatakan tim Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) masih melakukan pendataan terkait luasan wilayah terdampak karhutla.
“Hingga saat ini tim Pusdalops masih melakukan pendataan di lapangan. Dalam waktu dekat kami akan merilis perkembangan terbaru terkait luasan area terdampak,” ujar Rivai saat dikonfirmasi, Rabu malam.
Terkait kehadiran pimpinan daerah, Rivai menyampaikan bahwa Bupati dan Wakil Bupati Parigi Moutong dijadwalkan akan meninjau langsung lokasi karhutla pada Kamis (5/2/2026) siang.
“Bupati dan Wakil Bupati terus memantau kondisi meski saat ini masih mengikuti rapat koordinasi nasional bersama Presiden. Insyaallah besok sekitar pukul 13.00 hingga 14.00 WITA akan turun langsung ke lokasi,” jelasnya.