
reelsparimo.com, Parigi Moutong – Pelaksanaan Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Tahun 2026 di Kabupaten Parigi Moutong tetap berjalan meski hingga kini belum ada kepastian dari Kementerian Kebudayaan mengenai keberlanjutan program tersebut di daerah.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong memilih tetap melaksanakan GSMS melalui program daerah.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Parigi Moutong, Ninong Pandake, S.Sos., mengatakan pihaknya masih menunggu informasi dari pemerintah pusat terkait pelaksanaan GSMS tahun 2026.
Hal itu disampaikan Ninong dalam Sosialisasi GSMS Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2026 yang berlangsung di Aula Lantai 2 Disdikbud Parigi Moutong, Jumat (11/9/2026).
“Untuk tahun 2026, hingga saat ini belum ada informasi mengenai keberlanjutan program dari Kementerian Kebudayaan. Namun, GSMS tetap kami laksanakan melalui program Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Parigi Moutong,” kata Ninong.
Menurut Ninong, GSMS merupakan salah satu program unggulan Disdikbud Parigi Moutong di bidang kebudayaan. Karena itu, pihaknya tetap memberikan dukungan agar pembinaan seni bagi peserta didik dapat dilaksanakan di tengah belum adanya kepastian program dari pemerintah pusat.
“GSMS merupakan salah satu program unggulan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya di bidang kebudayaan. Karena itu, program ini tetap kami laksanakan,” ujarnya.
Pada 2026, sebanyak 10 sekolah di Kabupaten Parigi Moutong ditetapkan sebagai peserta GSMS. Para peserta didik akan mendapatkan pembelajaran bersama para seniman dalam sejumlah bidang seni, yakni musik, tari, teater, lukis, dan film.
Pembelajaran GSMS tidak hanya diarahkan pada peningkatan keterampilan seni. Para seniman juga didorong untuk mengenalkan kebudayaan kepada peserta didik, termasuk 10 Objek Pemajuan Kebudayaan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
“Pembelajaran tidak hanya berfokus pada seni. Anak-anak juga perlu mengenal kebudayaan yang ada di daerah kita serta memahami bahwa budaya merupakan bagian dari identitas,” jelas Ninong.
Dalam pelaksanaannya, pihak sekolah diharapkan turut memberikan dukungan dengan menyediakan tempat, peralatan, serta kebutuhan teknis lainnya agar proses pembelajaran bersama para seniman dapat berlangsung secara optimal.
Hasil pembelajaran peserta GSMS direncanakan ditampilkan dalam Festival Gampiri pada Oktober 2026 di Alun-Alun Kantor Bupati Parigi Moutong.
Pementasan tersebut diharapkan menjadi wadah bagi peserta didik untuk menampilkan hasil pembelajaran serta karya yang dikembangkan selama mengikuti program GSMS.
Ninong berharap pelaksanaan GSMS dapat membantu peserta didik mengembangkan kemampuan di bidang seni sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap kebudayaan daerah dan Indonesia.
“Harapan kami, anak-anak memiliki kemampuan di bidang seni sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya daerah dan budaya Indonesia,” pungkasnya.
