
reelsparimo.com Parigi Moutong – Perjalanan hampir tiga jam menggunakan ojek sepeda motor harus ditempuh untuk mencapai SDK Terpencil Singgonitu di Dusun VI Singgonitu, Desa Ulatan, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Di sekolah ini, guru dan siswa menjalani kegiatan belajar mengajar dengan fasilitas yang masih terbatas.
Kondisi tersebut diketahui Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Parigi Moutong, Alfred, saat mengunjungi sekolah itu bersama Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Parigi Moutong, Ibrahim, Senin (26/10/2026).
“Dengan medan yang sangat berisiko, tiga kali menyeberangi gunung baru sampai di tempat ini,” kata Alfred saat menggambarkan perjalanan menuju sekolah.
Setibanya di lokasi, Alfred mendapati tiga tenaga pendidik, terdiri atas seorang kepala sekolah dan dua guru, melayani sekitar 65 siswa.
Menurut Alfred, jarak dan kondisi medan membuat para guru tidak bisa pulang setiap hari. Mereka harus menginap di ruang kelas dan biasanya kembali ke desa sekitar sebulan sekali. Biaya ojek sewaan untuk menuju sekolah disebut mencapai Rp400 ribu.
“Kalau bolak-balik, sewa ojek saja, gaji mereka ini habis,” ujarnya.
Keterbatasan yang dihadapi sekolah tidak hanya menyangkut akses perjalanan. Listrik dan jaringan internet belum tersedia, sementara guru dan siswa harus berjalan kaki menuju sungai untuk mendapatkan air bersih.
“Fasilitas air bersih tidak ada. Makanya mereka pergi ke sungai-sungai, jalan kaki sampai di bawah dengan jarak yang begitu jauh,” kata Alfred.
Ia menilai kebutuhan listrik, jaringan internet, dan air bersih perlu mendapat perhatian pemerintah. Untuk memenuhi kebutuhan listrik, Alfred menyebut tenaga surya dapat menjadi salah satu alternatif.
Keterbatasan jaringan internet juga berdampak pada pelaksanaan kegiatan akademik. Ibrahim menjelaskan, siswa kelas VI harus turun ke wilayah permukiman yang lebih mudah dijangkau untuk mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) karena sekolah belum memiliki akses internet.
Ia berharap dukungan jaringan internet, termasuk opsi penggunaan Starlink, serta sumber listrik tenaga surya dapat membantu kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut.
Selain menghadapi keterbatasan fasilitas, siswa di SDK Terpencil Singgonitu sehari-hari menggunakan bahasa Lauje dalam berkomunikasi di lingkungan mereka. Alfred mengatakan anak-anak tersebut telah memahami bahasa Indonesia, meskipun sebagian masih terbata-bata saat mengucapkannya.
Menurut Alfred, kondisi itu menjadi salah satu hal yang perlu dipahami dalam melihat situasi pendidikan di wilayah tersebut.
Sementara itu, guru SDK Terpencil Singgonitu, Arianoava, menyampaikan sejumlah kebutuhan yang diharapkan dapat dipenuhi untuk menunjang aktivitas guru dan siswa.
“Tunjangan dana khusus, karena itu yang paling penting. Kemudian akses air bersih, kami memerlukan pipa air disambung supaya kami tidak kesusahan lagi mengambil air, dan listrik,” ujarnya.
Selain kebutuhan air bersih dan listrik, kondisi bangunan sekolah serta tempat tinggal guru juga menjadi perhatian pihak sekolah.
Kepala sekolah berharap pemerintah dapat menambah dan memperbaiki fasilitas bangunan, sekaligus menyediakan tempat tinggal bagi guru yang bertugas di wilayah tersebut.
“Harapan dari kami, selaku guru yang ada di daerah terpencil sangat berharap kepada pemerintah agar supaya fasilitas daripada bangunan sekolah ini agar bisa ditambahkan,” kata kepala sekolah.
Ia juga berharap tersedianya tempat tinggal bagi guru, terutama untuk mengantisipasi kebutuhan apabila jumlah siswa bertambah pada masa mendatang.
Alfred mengatakan, meskipun Dusun VI Singgonitu berada di wilayah yang sulit dijangkau, kebutuhan pendidikan masyarakat setempat perlu menjadi perhatian pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Ia juga mendorong agar usulan tunjangan khusus bagi guru dipertimbangkan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kita harus menjadikan ini perhatian bersama sebagai prioritas untuk mencerdaskan anak-anak kita yang ada di dusun terpencil ini,” ujarnya.
