
reelsparimo.com, Parigi Moutong – Menjelang perayaan Hari Raya Ketupat, suasana kebersamaan mulai terasa di Kelurahan Bantaya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong. Tradisi tahunan yang selalu dinantikan masyarakat ini kembali mendapat perhatian dan dukungan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Gubernur Sulawesi Tengah menyalurkan bantuan kepada masyarakat Kelurahan Bantaya senilai Rp55 juta untuk mendukung pelaksanaan perayaan Hari Raya Ketupat tahun ini.
Penyerahan bantuan tersebut diwakili oleh Ketua Relawan Berani Sulteng, Riski Samadani, bersama H. Sami Azis yang merupakan Anggota DPRD Kabupaten Parigi Moutong. Bantuan diserahkan kepada dua kelompok penyelenggara kegiatan Hari Raya Ketupat. Jumat sore, (27/3/26).
Kelompok pertama menerima bantuan sebesar Rp35 juta yang diwakili oleh Rifai Pakaya, sementara bantuan untuk kelompok kedua diserahkan kepada perwakilan Abdul Wahab.
Riski Samadani menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk dukungan agar kegiatan masyarakat dapat berjalan dengan lancar.
“Insya Allah kegiatannya tetap berjalan lancar dan sukses,” ujarnya.
Sementara itu, H. Sami Azis berharap tradisi Hari Raya Ketupat di Bantaya dapat terus dilestarikan oleh masyarakat karena memiliki nilai kebersamaan dan silaturahmi.
“Saya berharap kepada seluruh warga mari kita bersama-sama melestarikan budaya ini, karena ini merupakan salah satu kegiatan yang bisa membangun hubungan silaturahmi di antara kita,” katanya.
Salah satu perwakilan kelompok penerima bantuan, Abdul Wahab, mengatakan bantuan yang diterima nantinya akan disalurkan kepada warga sekitar untuk kebutuhan perayaan di rumah-rumah warga.
“Alhamdulillah kami tetap mendukung, mudah-mudahan beliau sehat terus,” ujarnya.
Adapun perayaan Hari Raya Ketupat di Kelurahan Bantaya merupakan tradisi yang rutin diselenggarakan setiap tahun, tepat satu minggu setelah Hari Raya Idulfitri. Tahun ini, kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 28 Maret 2026, mulai pagi hingga selesai, dengan melibatkan partisipasi luas masyarakat setempat.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi seperti Hari Raya Ketupat tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menjadi pengikat kebersamaan masyarakat. Dukungan berbagai pihak diharapkan dapat membuat tradisi ini terus berlangsung dan menjadi warisan budaya bagi generasi berikutnya.