
reelsparimo.com, Palu – Perjuangan petani durian Sulawesi Tengah untuk mencari solusi atas persoalan penyakit bangkalan akhirnya sampai langsung ke telinga Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia (RI) Andi Amran Sulaiman.
Momen itu terjadi saat Mentan Amran memberikan sambutan pada Dies Natalis ke-45 dan Wisuda Universitas Tadulako (Untad) di Gedung Auditorium Untad, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (20/8/2026).
Di tengah berlangsungnya sambutan, Ketua Asosiasi Petani Durian (APDURIN) Sulawesi Tengah, Hengki Idrus, terlihat berusaha mendekati Mentan untuk menyampaikan langsung keresahan petani durian.
Usahanya akhirnya mendapat kesempatan. Hengki diberikan ruang untuk menyampaikan aspirasi petani di hadapan Mentan dan para peserta kegiatan.
Setelah memperkenalkan diri, Hengki langsung menyampaikan persoalan yang menurutnya berdampak besar terhadap produksi durian di Sulawesi Tengah.
“Sulawesi Tengah ini Produksi Duriannya menurut sekitar 60 persen akibat penyakit bangkalan atau durian jatuh sebelum matang”.
Mendengar keluhan tersebut, Mentan Amran langsung merespons dengan pertanyaan singkat.
“apa yang diminta?”.
Hengki kemudian menyampaikan permintaan agar pemerintah turun tangan dengan menghadirkan tenaga ahli untuk mencari solusi terhadap persoalan yang dihadapi petani.
“tolong bisa diatasi, turunkan ahli-ahli, potensi pertanian terbaik di Indonesia untuk mengatasi penyakit bangkalan”.
Respons Mentan kembali terdengar dari podium.
“Pa Dirwil? Mana Horti? Ada ga ahlinya ini”.
Istilah Horti yang disampaikan Mentan merujuk pada bidang hortikultura, khususnya jajaran Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, yang menangani pengembangan komoditas hortikultura, termasuk buah-buahan.
Sementara istilah Dirwil dalam konteks ucapan Mentan merujuk pada pejabat atau unsur terkait bidang kewilayahan di lingkungan Kementerian Pertanian.
Mentan bahkan meminta agar pencarian ahli dilakukan dengan serius, termasuk membuka kemungkinan mendatangkan ahli dari luar negeri apabila diperlukan.
“Udah hubungi itu (Bagian Horti) cari itu turunkan negara yang biayai selama ada ahlinya di Indonesia, bila perlu dari luar negeri”.
Respons tersebut kemudian disambut Hengki dengan ucapan terima kasih. Ia lalu kembali turun dari panggung.
Persoalan yang diperjuangkan Hengki ternyata memiliki dampak lebih luas terhadap petani durian.
Saat dihubungi Tim ReelsParimo melalui pesan WhatsApp untuk meminta penjelasan mengenai penyakit bangkalan dan harapan petani setelah menyampaikan aspirasi kepada Mentan, Kamis malam (20/8/2026), Hengki menjelaskan bahwa persoalan tersebut terutama dirasakan pada durian, termasuk varietas Montong.
“Penyakit bangkalan pada durian (terutama varietas Montong) adalah gangguan misterius yang membuat rasa daging buah durian menjadi tawar, hambar, atau kehilangan rasa manisnya saat matang. Dari luar bentuk fisik buah durian tampak normal, namun kualitas rasanya rusak sehingga merugikan petani”
Menurut Hengki, persoalan tersebut sulit dikenali hanya dengan melihat kondisi luar buah. Secara fisik, buah dapat terlihat normal, tetapi masalah baru diketahui ketika durian dibelah dan dikonsumsi.
“Ciri-Ciri Utama Penyakit BangkalanTampilan Fisik Normal: Kulit, duri, dan ukuran buah durian yang terserang terlihat sehat dan normal dari luar tanpa tanda kebusukan luar yang mencolok.Daging Buah Tawar: Saat dibelah, warna daging buah bisa terlihat kuning atau normal, tetapi rasanya hambar, tidak manis, atau berair.Penurunan Nilai Jual: Karena rasanya yang tidak enak atau tawar, buah sama sekali tidak layak konsumsi komersial dan ditolak pembeli”.
Kondisi tersebut menjadi persoalan serius bagi petani karena kualitas rasa merupakan salah satu faktor utama yang menentukan nilai jual durian.
Buah yang secara fisik terlihat baik belum tentu dapat memberikan keuntungan ketika ternyata daging buahnya tawar atau tidak memenuhi kualitas yang diharapkan konsumen.
Hengki menyebut dampak bangkalan terhadap produksi juga sangat besar.
“Bangkalan menyebabkan penurunan produksi durian scr drastis, yaitu turun 60 %, hanya 40 % buah yg bs selamat”.
Angka tersebut, menurut Hengki, menggambarkan beratnya persoalan yang dihadapi petani. Dari hasil produksi yang seharusnya dapat menjadi sumber pendapatan, sebagian besar disebut tidak dapat diselamatkan akibat persoalan tersebut.
Bagi petani, persoalan bangkalan bukan hanya tentang tanaman yang bermasalah, tetapi menyangkut hasil kerja berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Petani telah merawat tanaman, mengeluarkan biaya produksi dan menunggu musim panen. Namun, ketika buah yang dihasilkan tidak memiliki kualitas rasa yang baik atau tidak dapat dijual secara komersial, harapan untuk mendapatkan penghasilan ikut terancam.
Karena itu, respons Mentan Amran di hadapan forum tersebut menjadi harapan baru bagi petani durian Sulawesi Tengah.
Hengki berharap pemerintah tidak berhenti pada pencarian informasi, tetapi benar-benar menghadirkan tenaga ahli untuk mengetahui penyebab dan menemukan solusi terhadap penyakit bangkalan.
Ia menyampaikan harapan tersebut dengan kalimat yang menggambarkan beratnya kondisi petani.
“Kami ingin agar kesedihan dan air mata petani durian dpt dihapus oleh Mentan”.
Harapan itu kini berada pada tindak lanjut pemerintah. Petani membutuhkan kepastian bahwa persoalan yang mereka hadapi mendapat perhatian serius, sehingga produksi durian dapat kembali optimal dan hasil kebun mampu memberikan penghasilan yang layak.
Perjuangan Hengki menyampaikan aspirasi langsung kepada Mentan menjadi pengingat bahwa di balik buah durian yang sampai ke pasar, terdapat perjuangan petani yang panjang.
Dan ketika penyakit membuat hasil kebun mereka kehilangan nilai, yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas buah, tetapi juga penghidupan keluarga petani.
Kini petani durian Sulawesi Tengah menunggu langkah nyata setelah respons langsung Mentan Amran tersebut, sebuah harapan agar masalah bangkalan dapat segera diteliti, ditemukan penyebabnya, dan dicarikan jalan keluar.
