
reelsparimo.com, Parigi Moutong – Sebuah kipas angin tiba-tiba menjadi perhatian setelah video tentang hadiah juara III lomba gerak jalan dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Parigi Moutong beredar luas di media sosial.
Di satu sisi, ada peserta yang telah berhari-hari berlatih, mengatur langkah, menjaga kekompakan dan menyisihkan waktu untuk mengikuti perlombaan. Ada rasa lelah, ada harapan untuk menang, dan tentu ada kebanggaan ketika nama sekolah atau kelompok mereka disebut sebagai juara.
Di sisi lain, ada panitia yang bekerja menyiapkan perlombaan agar seluruh rangkaian perayaan kemerdekaan dapat berjalan.
Di tengah dua sisi itulah, persoalan mengenai hadiah kemudian muncul dan menjadi perhatian publik.
Sebelumnya, sebuah video yang diunggah di media sosial memperlihatkan hadiah juara III berupa satu unit kipas angin. Video tersebut kemudian ditonton puluhan ribu kali dan memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat.
Untuk melihat persoalan tersebut secara lebih utuh, tim ReelsParimo kemudian melakukan konfirmasi kepada Ibrahim selaku perwakilan Dinas Pendidkan dan Kebudayaan (Disdikbud) yang membidangi Divisi Koordinator Lomba Gerak Jalan Kabupaten Parigi Moutong, Rabu (19/8/2026).
Ibrahim menjelaskan bahwa sejak awal lomba gerak jalan memang tidak dirancang dengan ketentuan nominal hadiah tertentu.
Dalam petunjuk teknis (juknis) yang dibagikan kepada peserta, yang dicantumkan adalah kategori lomba dan kategori juara. Tidak ada ketentuan yang menetapkan berapa rupiah nilai hadiah yang harus diterima oleh juara I, II, III maupun kategori lainnya.
“Yang perlu dipahami, kegiatan ini digelar semata-mata dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan. Dalam juknis yang diedarkan sudah jelas, yang dicantumkan kategori lomba dan kategori juara, bukan nominal besaran hadiah,” jelas Ibrahim.
Namun, di balik beberapa jam itu ada peserta yang berlatih, guru yang membimbing, orang tua yang memberikan dukungan, panitia yang menyiapkan kegiatan, juri yang melakukan penilaian hingga masyarakat yang ikut meramaikan suasana.
Diketahui besaran pendaftaran lomba senilai 50 ribu per regu, menanggapi hal itu Panitia mengatakan, biaya pendaftaran peserta sebesar Rp50 ribu bukan sekadar angka yang kemudian hilang setelah kegiatan selesai.
Dana tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan pelaksanaan kegiatan, termasuk konsumsi, honor juri, serta menambah kebutuhan piala dan hadiah.
Seluruh penggunaan dana tersebut, kata panitia, dibuatkan laporan pertanggungjawaban secara berjenjang kepada Ketua Panitia HUT Kabupaten.
Setiap pembelanjaan juga disebut dilengkapi dengan nota.
“Semua jelas laporan pertanggungjawaban dari uang Rp50 ribu itu. Panitia membuat LPJ dan akan dilaporkan kepada Ketua Panitia HUT,” ujarnya.
Termasuk hadiah kipas angin yang menjadi sorotan.
Ibrahim menyebut berdasarkan nota pembelian yang masuk dalam laporan pertanggungjawaban, kipas angin tersebut tercatat senilai Rp80 ribu.
Penjelasan ini disampaikan panitia agar publik tidak hanya melihat perkiraan harga yang muncul dalam video, tetapi juga dapat mengetahui bahwa terdapat dokumen pembelian yang menjadi bagian dari pertanggungjawaban kegiatan.
Ibrahim juga menjelaskan bahwa Bank Sulteng hadir sebagai sponsor kegiatan dan memberikan dukungan partisipasi dalam bentuk dana tunai.
Dukungan tersebut kemudian digunakan untuk membantu pelaksanaan lomba.
Panitia menyebut penggunaan dana sponsor juga telah dibuatkan laporan pertanggungjawaban dan disampaikan kepada pihak Bank Sulteng, lengkap dengan nota pembelian barang sesuai penggunaannya.
Dengan kata lain, panitia menegaskan bahwa baik dana pendaftaran maupun dukungan sponsor memiliki catatan penggunaan dan pertanggungjawaban.
Ada satu hal yang mungkin belum terlihat dalam video yang beredar. Para pemenang lomba tidak hanya akan menerima hadiah yang telah dibagikan.
Panitia Besar HUT Kabupaten juga menyiapkan piagam atau sertifikat penghargaan bagi seluruh pemenang. Piagam tersebut memang belum sempat dibagikan bersamaan dengan hadiah.
Bukan karena dilupakan.
Lomba gerak jalan baru selesai pada 17 Agustus. Pada malam harinya, rangkaian kegiatan langsung dilanjutkan dengan malam ramah tamah. Dalam waktu yang singkat tersebut, piagam penghargaan belum sempat dicetak oleh Panitia Besar HUT Kabupaten.
Karena itu, piagam akan diserahkan menyusul.
“Insyaallah satu atau dua hari ini akan disampaikan kepada para pemenang. Semua yang juara akan dibuatkan piagam penghargaan,” kata pihak penyelenggara.
Piagam tersebut juga akan diberikan kepada pemenang dari kalangan pelajar.
Bagi pelajar, selembar piagam mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi seorang anak sekolah, penghargaan tersebut bisa menjadi kenangan tentang satu pencapaian yang pernah mereka raih bersama teman-temannya.
Bagi peserta dari unsur OPD, dokumen penghargaan juga dapat menjadi bagian dari rekam jejak prestasi yang dapat dimanfaatkan sesuai ketentuan administrasi dan manajemen talenta ASN yang berlaku.
Sehingga, cerita tentang juara III sebenarnya belum selesai pada saat hadiah diserahkan. Masih ada penghargaan yang akan menyusul.
Panitia juga mengajak masyarakat untuk melihat kegiatan tersebut dari sisi yang lebih luas.
Lomba gerak jalan bukanlah sekadar perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat, paling kompak atau siapa yang membawa pulang hadiah paling besar.
Ada nilai kebersamaan di dalamnya.
Anak-anak belajar disiplin. Guru belajar membimbing. Teman-teman belajar menjaga kekompakan. Orang tua ikut memberikan semangat. Masyarakat keluar rumah dan berkumpul menyaksikan kemeriahan perayaan kemerdekaan.
Dan di tengah keramaian itu, ada pedagang kecil yang mendapatkan pembeli.
Ada UMKM yang dagangannya lebih ramai.
Ada masyarakat yang memperoleh penghasilan dari momentum keramaian HUT Kemerdekaan.
“Marilah kita melihat asas manfaat dari kegiatan lomba ini. Selain memeriahkan hari kemerdekaan, kegiatan ini juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Banyak UMKM yang merasakan manfaat dari kegiatan tersebut,” ujar panitia.
Mari Melihat Kipasnya, Tetapi Jangan Lupakan Ceritanya
Kritik dan pertanyaan masyarakat terhadap penyelenggaraan sebuah kegiatan tentu merupakan hal yang wajar.
Namun, panitia berharap perdebatan mengenai sebuah hadiah tidak membuat masyarakat lupa terhadap tujuan awal kegiatan.
Sebab di balik sebuah kipas angin, ada anak-anak yang berlatih, ada guru yang mendampingi. ada panitia yang bekerja, ada juri yang menilai, ada sponsor yang memberikan dukungan, ada orang tua yang memberi semangat, serta ada masyarakat yang bersama-sama merayakan kemerdekaan.
“Jangan hanya melihat juara atau hadiahnya. Hadiah dan juara itu hanya bentuk apresiasi untuk menghargai mereka yang sudah mengikuti kegiatan,” kata pihak penyelenggara.
Tahun ini Indonesia telah berusia 81 tahun sebagai bangsa yang merdeka. Kemerdekaan itu tidak diperoleh dengan mudah.
Ada perjuangan, pengorbanan dan air mata para pendahulu yang tidak pernah menikmati kemerdekaan seperti yang kita rasakan hari ini.
Maka ketika anak-anak berdiri tegak dalam barisan, melangkahkan kaki bersama, membawa nama sekolah dan daerahnya, mungkin di situlah salah satu cara sederhana generasi hari ini mengisi kemerdekaan.
Hadiah boleh menjadi bagian dari perlombaan.
Juara boleh menjadi kebanggaan.
Tetapi semangat untuk berkumpul, berlatih, berusaha, menghargai perjuangan dan merayakan kemerdekaan bersama-sama, itulah cerita yang jauh lebih besar.
Karena pada akhirnya, kemerdekaan bukan tentang seberapa besar hadiah yang kita bawa pulang, tetapi tentang seberapa besar rasa syukur yang kita bawa dalam kehidupan sehari-hari.
