
reelsparimo.com, Parigi Moutong – Suasana rapat paripurna DPRD Kabupaten Parigi Moutong, Senin (18/5/2026), memanas setelah anggota DPRD, Yushar, melontarkan kritik terbuka di hadapan Wakil Bupati terkait kondisi wajah kota, persoalan sampah, hingga minimnya penerangan jalan di sejumlah titik.
Dalam forum resmi tersebut, Yushar menilai berbagai keluhan yang berulang kali disampaikan DPRD belum menunjukkan tindak lanjut nyata dari pemerintah daerah.
“Percuma saja berteriak di paripurna setelah apa yang kita sampaikan tidak juga direalisasikan,” kata Yushar di ruang sidang paripurna.
Sorotan pertama diarahkan pada kondisi sisa penebangan pohon di kawasan sekitar Kantor Pekerjaan Umum (PU), Kelurahan Kampal, Jalan Ir. Sutami. Menurutnya, pohon memang telah ditebang sekitar dua pekan lalu, namun limbah ranting dan sampah hasil penebangan masih dibiarkan menumpuk di pinggir jalan.
Ia menyebut kondisi tersebut mencoreng wajah ibu kota kabupaten karena berada di jalur strategis yang dilalui masyarakat.
“Ini depan mukanya kita, muka kota, dekat Pertamina, kantor PU, turun ke bawah sampah-sampah pohon semua,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, Yushar juga menyoroti kondisi jalur dua arah selatan Parigi yang disebut dipenuhi titik pembuangan sampah liar. Ia meminta pemerintah daerah memberi perhatian serius terhadap penanganan sampah, termasuk memperkuat dukungan anggaran bagi Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
“Kalau menuju arah selatan jalur dua itu semua tempat pembuangan sampah. Itu fakta sampai hari ini,” katanya.
Kritik berikutnya menyasar persoalan penerangan jalan yang disebut belum mengalami perubahan meski sebelumnya telah dibahas dalam forum resmi DPRD.
Menurut Yushar, sejumlah ruas jalan publik, termasuk akses menuju Mapolres Parigi Moutong hingga wilayah Kayubura, masih minim penerangan dan rawan pada malam hari.
“Jalan ke Polres itu gelap. Kalau lewat jam 10 malam hati-hati, bisa-bisa dijegal orang begal di situ,” ujarnya.
Dalam penyampaiannya, Yushar juga membawa keluhan nelayan dan petani terkait layanan barcode dan pendampingan lapangan yang dinilai belum maksimal di sejumlah daerah pemilihan.
Ia menegaskan banyak masyarakat telah melengkapi seluruh persyaratan administrasi, namun masih kesulitan memperoleh pelayanan yang dibutuhkan.
“Kasian nelayan pak, jangan dipersulit mereka. Semua yang dibutuhkan sudah mereka urus,” katanya.
Di akhir penyampaiannya, Yushar menyinggung citra Parigi Moutong sebagai daerah penghasil durian montong yang dikenal luas masyarakat luar daerah. Namun menurutnya, kondisi kota yang gelap dan dipenuhi sampah justru memberi kesan buruk bagi pendatang.
“Orang datang bilang mana Parigi Moutong yang punya durian montong luar biasa, masuk ke sini malah gelap,” tutupnya.
Hingga rapat berlangsung, belum ada penjelasan rinci dari pihak pemerintah daerah terkait sejumlah sorotan yang disampaikan dalam forum paripurna tersebut.
