
reelsparimo.com, Parigi Moutong – Keberhasilan ekspor durian dari Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, disebut merupakan hasil dari proses panjang yang telah dirintis sejak beberapa tahun lalu melalui program pengembangan sektor pertanian pemerintah daerah.
Pengembangan komoditas durian sebagai produk ekspor mulai digagas pada masa kepemimpinan Bupati Samsurizal Tombolotutu. Saat itu, pemerintah daerah mendorong durian Parigi Moutong agar mampu menembus pasar internasional melalui peningkatan produksi dan promosi.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah penyelenggaraan Festival Durian Internasional 2023 bertema Durian Parimo Go Internasional yang berlangsung pada 4–6 Juli 2023 di Pantai Mosing, Kecamatan Tinombo Selatan.
Festival tersebut menjadi ajang promosi komoditas durian lokal Parigi Moutong ke pasar global. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari kontes durian unggulan seperti varietas Kute Jensies dan Si Betinos hingga pesta makan 10.000 durian gratis yang melibatkan masyarakat dan pengunjung dari berbagai daerah.
Selain sebagai sarana promosi, festival itu juga ditujukan untuk mendorong peningkatan ekspor durian beku asal Parigi Moutong ke pasar internasional.
Sejumlah narasumber menyebutkan bahwa pelepasan ekspor durian oleh Gubernur Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu bukan merupakan ekspor pertama dari Kabupaten Parigi Moutong. Menurut mereka, ekspor perdana telah lebih dahulu dilakukan pada tahun yang sama, sehingga pelepasan tersebut merupakan pengiriman ekspor tahap berikutnya.
Hal senada disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Parigi Moutong, Alfres Masboy Tonggiro, dalam Rapat Paripurna DPRD terkait penyampaian laporan Panitia Kerja (Panja) tentang packing house komoditas ekspor pada Selasa (10/3/2026).
Alfres menegaskan bahwa pengembangan komoditas durian bukan merupakan program baru, melainkan bagian dari kebijakan pemerintah daerah yang telah dirancang sejak masa pemerintahan Bupati Samsurizal Tombolotutu.
“Nah, ini salah satu bagian daripada tugas pemerintahan daerah. Perlu saya sampaikan bahwa urusan durian ini bukan program pemerintah yang sekarang. Ini sudah program pemerintah Samsurizal sebelumnya, yaitu program satu desa dua hektare,” ujarnya.
Program “Satu Desa Dua Hektare” dirancang untuk memperluas penanaman durian di setiap desa sehingga produksi durian lokal terus meningkat dan mampu memenuhi kebutuhan pasar, termasuk untuk kegiatan ekspor.
Menurut Alfres, program tersebut telah mulai berjalan dan perlu dipercepat pelaksanaannya agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat, khususnya petani.
“Program ini sudah berjalan. Tinggal bagaimana pemerintah yang sekarang mengelola dan mempercepat realisasi satu desa dua hektare itu,” katanya.
Ia menambahkan, apabila program tersebut berjalan optimal, kebutuhan bahan baku untuk berbagai packing house di Parigi Moutong dapat dipenuhi dari produksi petani lokal tanpa harus mendatangkan durian dari luar daerah.
“Kalau program itu berjalan dengan baik, kita punya harapan bahwa kebutuhan durian untuk packing house tidak perlu lagi didatangkan dari luar daerah,” jelasnya.
DPRD berharap pengembangan sektor durian di Kabupaten Parigi Moutong tidak hanya berorientasi pada peningkatan ekspor, tetapi juga mampu memperkuat produksi lokal, meningkatkan pendapatan daerah, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi para petani.
