
reelsparimo.com, Parigi Moutong – Antrean kendaraan untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Parigi, Kelurahan Kampal, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mengular hingga badan jalan Trans Sulawesi dalam beberapa hari terakhir.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan dan Penertiban BBM Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, Ismet, menyebut kepanikan masyarakat sebagai faktor yang menyebabkan antrean kendaraan membludak.
Pernyataan itu disampaikan Ismet saat melakukan pengawasan di SPBU Parigi bersama unsur TNI dan kepolisian, Rabu (21/10/2026) pagi.
“Kita lihat kondisi secara kasat mata, ini antrean. Pada waktu malam hari saya sempat di sini bersama teman-teman Satgas. Kenapa sampai terjadi begini, masyarakat panik,” kata Ismet saat diwawancarai sejumlah awak media.
Berdasarkan pantauan tim ReelsParimo, antrean kendaraan roda dua dan roda empat mulai membludak sejak Senin malam (19/10/2026). Kendaraan yang mengantre untuk mendapatkan Pertalite terlihat memanjang hingga badan jalan.
Ismet mengatakan, berdasarkan komunikasi yang dilakukannya, satu mobil tangki yang memasok SPBU tersebut biasanya membawa total 16 ton BBM, terdiri atas 8 ton solar dan 8 ton Pertalite.
Ia mengusulkan agar Pertamina mempertimbangkan pengiriman satu mobil tangki berisi penuh Pertalite untuk mengantisipasi antrean dan kepanikan masyarakat.
“Seharusnya, biar tidak timbul antrean, kalau bisa satu tangki itu 16 ton Pertalite semua. Itu masukan kami dari Satgas untuk pihak Pertamina biar tidak terjadi kepanikan warga yang ada di wilayah Parigi Moutong,” ujarnya.
Sementara itu, pihak manajemen SPBU Parigi, Zulkifli, mengatakan stok BBM di SPBU tersebut dalam kondisi normal berdasarkan perhitungan internal pihaknya.
Namun, ia menyebut pengiriman BBM dari Depot Donggala membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima jam untuk tiba di Parigi. Keterlambatan pasokan dari depot juga dapat memengaruhi proses distribusi ke SPBU.
Zulkifli mengatakan pola pengiriman telah diubah, dengan Pertalite dipasok lebih dahulu sebelum solar pada malam hari.
Meski demikian, ia mengaku belum mengetahui penyebab pasti lonjakan antrean kendaraan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
“Kita kaget karena tiba-tiba langsung membludak. Entah isu apa yang beredar di luar sampai antrean tiba-tiba membludak. Padahal kalau kita hitung-hitungannya stok normal, cuma pengantre tiba-tiba membludak. Itu kami belum bisa pastikan apa penyebabnya,” kata Zulkifli.
Menurut Zulkifli, pihak SPBU terus berkoordinasi dengan Satgas untuk mengevaluasi pola penyaluran BBM, baik kepada pengendara sepeda motor maupun mobil.
Evaluasi juga dilakukan terhadap pembelian BBM menggunakan jeriken. Jika sebelumnya pembelian dicatat, kini jumlah pembelian dibatasi berdasarkan jatah jeriken untuk setiap orang.
“Awalnya itu didaftar, sekarang dijatah berapa galon per orang. Itu bertahap, kita evaluasi terus bagaimana caranya supaya bisa semua dapat,” ujarnya.
