
reelsparimo.com, Parigi Moutong – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Parigi Moutong pada kuartal I 2026 tercatat sebesar 3,55 persen. Angka tersebut menempatkan Parigi Moutong di peringkat kedelapan dari 13 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah, sekaligus berada dalam kelompok lima daerah dengan pertumbuhan ekonomi terendah.
Di sisi lain, Morowali berada di posisi teratas dalam pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah. Perbedaan capaian tersebut menunjukkan adanya perbedaan laju pertumbuhan ekonomi antardaerah di provinsi ini.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Parigi Moutong, Sunu Hari Ismawan, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (12/8/2026), mengatakan posisi Parigi Moutong pada kuartal I 2026 berada di urutan kedelapan.
“Untuk kuartal pertama tahun 2026, Parigi Moutong menempati peringkat delapan dari 13 kabupaten dan kota,” ujar Sunu.
Menurut Sunu, struktur ekonomi Parigi Moutong masih sangat dipengaruhi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.
Pada 2025, sektor tersebut memberikan kontribusi sekitar 44,25 persen terhadap total PDRB Parigi Moutong. Dua sektor lain yang memiliki kontribusi besar adalah perdagangan besar dan eceran serta konstruksi.
Besarnya kontribusi pertanian menunjukkan bahwa perekonomian Parigi Moutong masih bercorak agraris.
Sunu menjelaskan, ketika sektor pertanian masih memberikan kontribusi lebih dari 40 persen terhadap PDRB, struktur ekonomi suatu wilayah masih didominasi sektor agraris.
“Kalau struktur PDRB kita masih 40 persen ke atas dan didominasi pertanian, maka wilayah kita masih disebut sebagai wilayah agraris,” jelasnya.
Menurut dia, kondisi tersebut berbeda dengan daerah yang mengalami perubahan struktur ekonomi akibat masuknya investasi dan berkembangnya sektor industri.
Sunu mengatakan, posisi pertumbuhan ekonomi Parigi Moutong dapat berubah apabila terdapat perkembangan signifikan pada sektor ekonomi tertentu, termasuk investasi dalam skala besar maupun peningkatan produksi.
Sebaliknya, tanpa perubahan yang signifikan pada struktur ekonomi, posisi Parigi Moutong berpotensi tidak banyak bergeser.
“Kalau kita tidak mempunyai sesuatu yang cukup signifikan yang merubah, kemungkinan kita akan di sekitar itu, antara delapan, sembilan, tujuh,” katanya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Parigi Moutong memiliki berbagai potensi, mulai dari pertanian, perkebunan, kelautan hingga perikanan. Namun, besarnya potensi tersebut perlu diikuti peningkatan nilai tambah agar memberikan dampak lebih besar terhadap perekonomian daerah.
Salah satu upaya yang dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara lebih signifikan adalah memperkuat investasi dan hilirisasi.
Sunu mengatakan pemerintah daerah perlu melihat potensi ekonomi yang dapat dikembangkan di luar sektor pertanian sekaligus mendorong pengolahan komoditas yang sudah dihasilkan masyarakat.
Hilirisasi memungkinkan komoditas tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diproses menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Ia mencontohkan komoditas kelapa. Jika kelapa hanya dijual sebagai bahan mentah, nilai tambah yang diperoleh relatif terbatas. Namun, apabila diolah menjadi kopra, minyak kelapa maupun produk turunannya, setiap tahapan produksi dapat menciptakan nilai tambah baru.
“Dengan hilirisasi, nilai tambah dari barang dan jasa yang dihasilkan akan meningkat. Semakin panjang rantai produksinya, semakin banyak nilai tambah yang tercipta dan itu akan memengaruhi PDRB,” jelas Sunu.
Peringkat kedelapan pada kuartal I 2026 menjadi salah satu gambaran mengenai posisi perekonomian Parigi Moutong dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Sulawesi Tengah.
Dengan sektor pertanian yang masih memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB, diversifikasi ekonomi menjadi salah satu tantangan ke depan.
Pemerintah daerah tidak hanya dituntut meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah, investasi, aktivitas industri, lapangan kerja dan rantai produksi dari berbagai potensi yang dimiliki.
Dengan demikian, potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang besar dapat lebih jauh diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang memberikan dampak terhadap pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat.
