
reelsparimo.com, Parigi Moutong – Dua tahun setelah banjir melanda Desa Sibalago, Kecamatan Toribulu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, sejumlah keluarga penyintas masih menghadapi persoalan tempat tinggal. Di tengah keterbatasan ekonomi, mereka bertahan di hunian sementara dengan kondisi yang belum sepenuhnya layak.
Salah satunya Emon. Bagi dia, kehilangan rumah bukan sekadar persoalan bangunan yang rusak akibat bencana, melainkan juga hilangnya tempat aman bagi keluarga untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Emon mengandalkan hasil kebun milik keluarga. Penghasilan yang terbatas membuatnya harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup, termasuk kebutuhan anak-anak yang terus bertambah.
Di tempat tinggal sementara, Emon berusaha menciptakan kenyamanan dengan cara sederhana. Ia mengumpulkan puing-puing kayu bekas banjir untuk dijadikan lantai di dalam tenda yang mereka tempati.
Upaya itu menjadi bagian dari perjuangan keluarga Emon untuk bertahan setelah kehilangan rumah. Di tengah keterbatasan, ia masih menyimpan harapan agar keluarganya dapat menempati rumah yang aman dan layak.
“Yang penting kami bisa tinggal di rumah yang layak,” ungkap Emon dengan suara penuh harap, sembari mengusap air mata yang menetes di wajahnya.
Harapan tersebut kembali muncul saat Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong mengunjungi penyintas di Desa Sibalago pada Rabu, 7 Oktober 2026. Dalam kunjungan itu, Emon mendengar penyampaian mengenai rencana perbaikan dan pembangunan rumah bagi warga terdampak bencana.
Namun, realisasi pembangunan tersebut masih menunggu ketersediaan anggaran yang direncanakan pada 2027. Dengan demikian, sebagian keluarga penyintas masih harus menanti kepastian pelaksanaan pembangunan rumah mereka.
Berdasarkan informasi yang disampaikan, terdapat 20 kepala keluarga di Desa Sibalago yang terdampak persoalan tempat tinggal pascabencana. Tiga rumah telah dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Parigi Moutong, sementara keluarga lainnya masih menantikan realisasi bantuan.
Bagi para penyintas, kepastian pembangunan rumah menjadi hal penting karena berkaitan langsung dengan keselamatan, kenyamanan, dan keberlangsungan kehidupan keluarga, terutama anak-anak.
Pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan penanganan pada masa darurat, tetapi juga keberlanjutan bantuan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Ketersediaan anggaran, pendataan penerima, serta jadwal pembangunan menjadi bagian penting agar proses pemulihan dapat berjalan sesuai kebutuhan warga terdampak.
Pemerintah daerah diharapkan menyampaikan perkembangan rencana pembangunan secara terbuka, termasuk kepastian anggaran dan tahapan pelaksanaannya. Informasi tersebut diperlukan agar penyintas mengetahui langkah yang akan ditempuh dan tidak terus berada dalam ketidakpastian.
Bagi Emon dan keluarga lainnya, rumah layak bukan sekadar bangunan untuk berteduh. Rumah merupakan tempat anak-anak tumbuh, keluarga beristirahat, dan kehidupan perlahan dibangun kembali setelah bencana.
Dua tahun telah berlalu sejak banjir melanda Sibalago. Kini, para penyintas masih menunggu agar proses pemulihan membawa mereka lebih dekat pada kehidupan yang aman dan layak.
